Belajar Bijak Menjalankan Aturan, Pesan Bu Fitri dalam Upacara Senin SMK Al Kaaffah

Kepanjen, 7 September 2026 — Upacara rutin hari Senin kembali dilaksanakan oleh keluarga besar SMK Al Kaaffah Kepanjen, Senin (7/9/2026). Selain menjadi agenda rutin untuk membangun kedisiplinan dan kebersamaan, upacara kali ini juga menjadi ruang bagi siswa untuk kembali merefleksikan berbagai nilai yang telah disampaikan oleh para pembina upacara dalam beberapa pekan sebelumnya.
Pada kesempatan kali ini, amanat upacara disampaikan oleh Ibu Fitri Nur Indra Fauziah, S.Psi.
Dalam amanatnya, beliau mengajak para siswa untuk tidak hanya memahami peraturan sekolah sebagai sesuatu yang wajib ditaati, tetapi juga belajar memiliki cara berpikir yang bijak dalam menyikapi dan menjalankan berbagai aturan yang berlaku di lingkungan sekolah.
Bijak Menjalankan Aturan sebagai Latihan Memasuki Dunia Kerja
Menurut beliau, kehidupan siswa di sekolah merupakan salah satu proses persiapan sebelum mereka memasuki lingkungan yang lebih luas, baik dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat.
Di dunia kerja, seseorang tidak cukup hanya memiliki kemampuan teknis. Kemampuan untuk memahami situasi, mengambil keputusan, menempatkan diri, serta menyikapi aturan dengan tepat juga menjadi bagian penting dalam membangun profesionalitas.
Karena itu, kebijaksanaan dalam bersikap dapat menjadi salah satu soft skill yang membantu meningkatkan kualitas dan kapasitas seseorang ketika memasuki dunia kerja.
Siswa perlu belajar bahwa mengikuti aturan bukan sekadar karena takut mendapatkan konsekuensi, melainkan sebagai bagian dari proses membangun kesadaran, tanggung jawab, dan kemampuan beradaptasi.
Hal tersebut menjadi semakin penting bagi siswa SMK yang nantinya akan berhadapan langsung dengan lingkungan industri, dunia usaha, maupun masyarakat dengan karakter dan aturan yang beragam.
Mengingat Kembali Pesan dari Para Pembina Upacara
Menariknya, dalam amanat tersebut Ibu Fitri juga mengajak siswa untuk mereview kembali pesan-pesan yang pernah disampaikan oleh pembina upacara sebelumnya.
Beberapa amanat yang kembali diingatkan antara lain pesan Bapak Fandy mengenai pentingnya memaksimalkan kemampuan berpikir untuk menyelesaikan berbagai persoalan sekaligus menghasilkan karya.
Kemudian, Bapak Huda pernah menyampaikan pentingnya kemampuan manajemen waktu, sebuah keterampilan yang akan semakin dibutuhkan ketika siswa menghadapi tuntutan belajar, pekerjaan, maupun kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Ibu Eva sebelumnya membagikan pengalaman dan tips dalam menghadapi rasa malas ketika menjalani proses pendidikan, termasuk bagaimana tetap menjalankan kewajiban meskipun terkadang muncul keinginan untuk menghindarinya.
Pesan lainnya datang dari Ibu Maya, yang menekankan pentingnya kedisiplinan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Berbagai amanat tersebut, menurut Ibu Fitri, sebenarnya saling berkaitan.
Kemampuan berpikir membantu seseorang menyelesaikan masalah. Manajemen waktu membantu seseorang mengelola tanggung jawab. Kemampuan mengatasi rasa malas membantu seseorang tetap bergerak ketika menghadapi tantangan. Sementara kedisiplinan dan kebijaksanaan membantu seseorang menjalankan semuanya secara konsisten dan bertanggung jawab.
Jangan Sampai Amanat Upacara Hanya Menjadi Angin Lalu
Melalui amanatnya, Ibu Fitri berharap para siswa tidak menganggap pesan-pesan yang disampaikan dalam upacara hanya sebagai sesuatu yang didengar sesaat kemudian dilupakan.
Setiap amanat, menurut perspektif tersebut, seharusnya dapat menjadi bahan refleksi dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab pendidikan tidak hanya berlangsung ketika guru menjelaskan materi di dalam kelas. Kebiasaan sederhana seperti datang tepat waktu, mengelola waktu, mematuhi aturan, menyelesaikan masalah, melawan rasa malas, hingga mampu mempertimbangkan sesuatu dengan bijak merupakan bagian dari proses pembentukan karakter.
Pada akhirnya, tujuan dari berbagai pembiasaan tersebut bukan sekadar menjadikan siswa sebagai pribadi yang “patuh terhadap aturan”, tetapi membantu mereka tumbuh menjadi individu yang mampu memahami alasan di balik sebuah aturan, bertanggung jawab terhadap pilihannya, serta mampu menempatkan diri secara tepat di lingkungan yang akan mereka hadapi setelah lulus.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa setiap amanat yang disampaikan dalam upacara memiliki nilai yang lebih panjang daripada durasi upacaranya sendiri.
Mendengar adalah awal. Memahami adalah proses. Mengimplementasikan adalah tujuan.
Kontributor : Fandy
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!



